merupakan program corporate yang dirancang untuk memperkuat keterlibatan karyawan sekaligus membangun hubungan kerja yang harmonis dan produktif dalam organisasi.
Melalui Training Employee Engagement dan Hubungan Industrial peserta akan mempelajari strategi meningkatkan engagement berbasis budaya perusahaan komunikasi internal yang efektif serta pengelolaan hubungan industrial sesuai regulasi yang berlaku selain itu, Training Employee Engagement dan Hubungan Industrial juga membahas teknik penyelesaian konflik negosiasi bipartit serta penguatan peran manajemen dalam menciptakan lingkungan kerja yang kondusif dengan pendekatan studi kasus simulasi dan best practice industri peserta mampu mengimplementasikan kebijakan yang adil transparan dan berkelanjutan sehingga meningkatkan loyalitas karyawan produktivitas kerja serta stabilitas organisasi secara menyeluruh dalam menghadapi dinamika dunia kerja modern.
E. EMPLOYEE EXPERIENCE, ENGAGEMENT & WELLBEING
F. INDUSTRIAL RELATIONS, COMPLIANCE & HR ADMINISTRATION
EMPLOYEE EXPERIENCE, ENGAGEMENT & WELLBEING
Tentukan dan pastikan Materi Training terkini, outline/silabus dengan jadwal terbaik pelaksanaan training karyawan perusahaan. Pilihan Waktu Training Flexible Minimal 2 Minggu Hari Kerja.
1. Employee Engagement Strategy & Execution
Keterikatan emosional dan psikologis karyawan terhadap organisasi.
Employee engagement telah menjadi faktor kunci dalam meningkatkan produktivitas, kinerja, loyalitas, dan keberlanjutan organisasi. Karyawan yang engaged tidak hanya bekerja untuk memenuhi target, tetapi juga memiliki keterikatan emosional, komitmen, dan semangat berkontribusi bagi kesuksesan organisasi.
Namun, banyak organisasi masih memandang engagement sebatas survei tahunan tanpa tindak lanjut strategis. Tanpa pendekatan yang sistematis, engagement tidak mampu diterjemahkan menjadi perilaku kerja, budaya positif, dan kinerja nyata.
Pelatihan ini dirancang untuk membantu organisasi menyusun strategi employee engagement yang terintegrasi dengan bisnis, serta membekali peserta dengan kemampuan mengeksekusi, mengukur, dan mengelola program engagement secara berkelanjutan.
Membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan untuk merancang serta mengimplementasikan Employee Engagement Strategy & Execution Plan yang efektif dan berdampak pada kinerja organisasi.
Setelah mengikuti pelatihan, peserta mampu:
Memahami konsep dan dimensi employee engagement modern.
Mengidentifikasi driver utama engagement di organisasi.
Menyusun strategi engagement yang selaras dengan visi, budaya, dan strategi bisnis.
Mendesain program engagement berbasis lifecycle karyawan.
Mengembangkan peran leader sebagai engagement driver.
Mengelola dan menindaklanjuti hasil engagement survey.
Menyusun KPI dan indikator keberhasilan engagement.
Mengeksekusi program engagement secara terstruktur dan berkelanjutan.
Menghasilkan Employee Engagement Strategy & Action Plan.
Definisi employee engagement (Gallup, AON, Mercer)
Engagement vs satisfaction vs happiness
Dampak engagement terhadap:
Performance
Retention
Productivity
Employer branding
Peran HR & leader dalam membangun engagement
Key drivers engagement:
Leadership & trust
Career & development
Recognition & reward
Work environment & well-being
Communication & purpose
Employee lifecycle perspective:
Join → Grow → Perform → Stay → Exit
Mengidentifikasi pain point engagement
Engagement as a business strategy
Alignment dengan:
Corporate strategy
Culture & values
People strategy
Top-down vs bottom-up engagement
Short-term vs long-term engagement strategy
Program engagement berbasis lifecycle:
Onboarding engagement
Career & development engagement
Performance & recognition
Well-being & work-life balance
Communication & involvement
Designing high-impact engagement initiatives
Avoiding “program fatigue”
Peran leader dalam membangun engagement
Engaging leadership behaviors
Coaching & feedback culture
Manager capability dalam engagement
HARI 2 – EXECUTION, MEASUREMENT & SUSTAINABILITY
Jenis engagement survey
Annual
Pulse survey
Lifecycle survey
Menyusun pertanyaan survey yang tepat
Membaca dan menganalisis hasil survey
Translating data into action
Menyusun engagement action plan
Prioritization matrix
Assigning ownership & accountability
Timeline & milestone execution
Engagement communication strategy
Internal campaign & storytelling
Managing expectations karyawan
Change management dalam engagement program
KPI employee engagement:
Engagement index
Turnover
Absenteeism
Productivity
eNPS
Mengukur ROI engagement program
Continuous improvement model
Embedding engagement into culture
Integrasi dengan:
Performance management
Talent management
Leadership development
Roadmap engagement berkelanjutan
Best practices global
Peserta mampu:
Mendesain strategi engagement berbasis data & bisnis
Mengelola engagement sebagai program berkelanjutan
Menghubungkan engagement dengan kinerja dan budaya
Menjalankan engagement survey dan tindak lanjutnya
Mengukur efektivitas dan dampak engagement
HR Manager & HR Business Partner
Talent Management & OD Team
Learning & Development Manager
Supervisor & Line Manager
Organization Development & Culture Team.
2. Designing Employee Experience (EX) Journey
Meningkatkan kualitas pengalaman kerja sejak onboarding hingga exit process.
Employee Experience (EX) telah menjadi topik sentral dalam pengembangan organisasi modern, yang berfokus pada menciptakan pengalaman menyeluruh bagi karyawan mulai dari awal rekrutmen hingga akhir masa kerja mereka. EX yang baik tidak hanya berfokus pada aspek kesejahteraan fisik atau finansial, tetapi juga pada aspek emosional, sosial, dan kultural. Organisasi yang mampu merancang EX yang memadai akan lebih mampu menarik talenta terbaik, meningkatkan keterlibatan, produktivitas, dan retensi karyawan.
Namun, banyak organisasi yang belum secara sadar mendesain perjalanan EX karyawan yang terintegrasi dan strategis. Oleh karena itu, perlu adanya pemahaman yang mendalam dan pendekatan terstruktur untuk merancang Employee Experience Journey yang efektif.
Pelatihan ini bertujuan untuk membantu organisasi dalam merancang perjalanan pengalaman karyawan yang lebih holistik, dengan memanfaatkan data, feedback, dan teknologi untuk menciptakan pengalaman yang menyeluruh dan berdampak positif bagi karyawan dan organisasi.
Membekali peserta dengan keterampilan dan pemahaman yang dibutuhkan untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengelola Employee Experience Journey yang komprehensif di seluruh siklus hidup karyawan dalam organisasi.
Setelah mengikuti pelatihan, peserta dapat:
Memahami konsep dan pentingnya Employee Experience (EX) dalam konteks organisasi modern.
Mengidentifikasi berbagai dimensi EX yang memengaruhi keterlibatan dan produktivitas karyawan.
Mendesain Employee Experience Journey yang terintegrasi dengan strategi organisasi.
Menciptakan pengalaman karyawan yang holistik, dari rekrutmen hingga exit.
Menggunakan data dan umpan balik untuk mendesain dan memperbaiki EX.
Menyusun inisiatif untuk meningkatkan EX di setiap tahap siklus hidup karyawan.
Mengimplementasikan dan memantau efektivitas perjalanan EX.
Menghasilkan Employee Experience Journey Framework yang dapat diterapkan dalam organisasi masing-masing.
Apa itu Employee Experience (EX)?
Perbedaan antara EX, Employee Engagement, dan Employee Satisfaction
Mengapa EX penting bagi organisasi modern
Manfaat EX yang baik bagi organisasi:
Retensi karyawan
Keterlibatan dan produktivitas
Employer branding
Hubungan antara EX dan Customer Experience (CX)
EX dalam konteks digitalisasi dan perubahan generasi kerja
Tahapan siklus hidup karyawan:
Attraction & Recruitment
Onboarding & Integration
Career Development & Engagement
Performance & Recognition
Well-being & Retention
Exit & Alumni Relations
Menganalisis pengalaman di setiap tahap
Faktor yang mempengaruhi EX di masing-masing tahap siklus hidup karyawan
Menyusun framework EX yang berfokus pada:
Employee touchpoints (Rekrutmen, Onboarding, Training, Performance Review, Exit, dll.)
Emotional journey (faktor emosional yang dirasakan karyawan di setiap tahap)
Keterlibatan dan interaksi antara karyawan dan organisasi
Aligning EX dengan nilai-nilai organisasi
Merancang EX yang inklusif dan memperhatikan keberagaman
Integrasi EX dengan budaya perusahaan
Mengidentifikasi "moments of truth" di perjalanan karyawan
Bagaimana setiap interaksi memengaruhi persepsi karyawan
Membuat EX yang berkesan di setiap titik sentuh
Meningkatkan kualitas interaksi pada setiap tahap, termasuk
Rekrutmen: First impressions
Onboarding: Welcoming experience
Performance Review: Feedback & growth
Exit: Leaving the organization gracefully
Menggunakan teknologi untuk meningkatkan pengalaman karyawan
Menggunakan data untuk memahami kebutuhan dan ekspektasi karyawan
Menganalisis feedback dari survei, wawancara, dan focus group discussions
Personalizing experience berdasarkan kebutuhan individu
Generasi dan budaya kerja yang beragam: Menyesuaikan EX dengan berbagai segmen karyawan (Millennials, Gen Z, dll.)
HARI 2 – IMPLEMENTASI, MEASURING, & OPTIMIZATION EX
Mendesain program EX untuk setiap tahap life cycle karyawan
Menyusun inisiatif engagement, well-being, dan development
Program onboarding yang efektif dan menyenangkan
Program pelatihan dan pengembangan yang mendukung growth mindset
Recognition & reward programs untuk meningkatkan loyalitas dan motivasi
Membangun program well-being dan keseimbangan kehidupan kerja
KPI dan metrik untuk mengukur EX:
Engagement score
Retention rate
Employee Net Promoter Score (eNPS)
Satisfaction survey (e.g. Pulse Surveys)
Tools untuk mengukur dan memonitor EX:
Analytics dashboards
Employee feedback loops
Performance tracking tools
Menggunakan data untuk memperbaiki dan menyesuaikan EX
Peran teknologi dalam merancang dan mengelola EX
Digital platforms & tools untuk onboarding, feedback, recognition, dan komunikasi internal
Employee self-service portals, mobile apps, gamification
AI dan automasi dalam menciptakan pengalaman karyawan yang lebih baik
Menyusun pengalaman yang inklusif dan berbasis keberagaman
Mengintegrasikan keberagaman dalam EX: Gender, usia, budaya, dll
Praktik terbaik untuk menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan mendukung
Melibatkan karyawan dalam proses desain EX
Membangun budaya feedback berkelanjutan
Menerapkan Continuous Improvement (Kaizen) dalam EX
Menyesuaikan program EX berdasarkan perubahan dalam organisasi dan tren pasar
Membangun EX sebagai bagian dari budaya organisasi yang berkelanjutan
Peserta akan mampu:
Merancang Employee Experience Journey yang berfokus pada kesejahteraan karyawan dan hasil organisasi.
Menyusun program engagement, onboarding, recognition, dan career development yang selaras dengan EX.
Mengukur dampak Employee Experience terhadap kinerja organisasi.
Menerapkan teknologi untuk meningkatkan experience karyawan di setiap tahap.
Membangun strategi EX yang berkelanjutan dan berbasis data.
HR Manager & HR Business Partner
Talent Management & OD Team
Learning & Development Manager
Employee Engagement Specialist
Organizational Development & Culture Team
3. Building Psychological Safety at Work
Mendorong lingkungan kerja yang aman untuk berpendapat dan berekspresi.
Dalam lingkungan kerja yang semakin kompleks, cepat berubah, dan penuh tekanan, organisasi membutuhkan budaya kerja yang aman secara psikologis (psychological safety). Psychological safety memungkinkan karyawan untuk berani menyampaikan ide, bertanya, mengakui kesalahan, serta memberikan umpan balik tanpa rasa takut akan disanksi, dipermalukan, atau dipinggirkan.
Berbagai studi menunjukkan bahwa psychological safety menjadi fondasi utama bagi kinerja tim yang tinggi, inovasi, kolaborasi, dan pembelajaran berkelanjutan. Namun, banyak organisasi masih menghadapi tantangan seperti budaya takut salah, komunikasi satu arah, minimnya kepercayaan, dan kepemimpinan yang belum sepenuhnya mendukung keterbukaan.
Pelatihan ini dirancang untuk membantu pemimpin, HR, dan karyawan memahami konsep psychological safety serta membangun perilaku, sistem, dan praktik kerja yang mendukung terciptanya lingkungan kerja yang aman, inklusif, dan produktif.
Membekali peserta dengan pemahaman, keterampilan, dan tools untuk membangun serta memelihara psychological safety di tempat kerja secara berkelanjutan.
Setelah mengikuti pelatihan, peserta mampu:
Memahami konsep dan manfaat psychological safety dalam organisasi.
Mengidentifikasi faktor-faktor yang merusak atau mendukung psychological safety.
Mengenali peran pemimpin dan tim dalam menciptakan lingkungan yang aman secara psikologis.
Mengembangkan perilaku kepemimpinan yang mendorong keterbukaan dan kepercayaan.
Membangun komunikasi yang aman, terbuka, dan saling menghargai.
Mengelola kesalahan, konflik, dan perbedaan pendapat secara konstruktif.
Mendesain inisiatif dan praktik kerja yang mendukung psychological safety.
Mengukur dan memantau tingkat psychological safety di tim atau organisasi.
Menyusun rencana aksi untuk implementasi psychological safety.
Definisi psychological safety (Amy Edmondson)
Perbedaan psychological safety vs comfort zone
Dampak psychological safety terhadap:
Kinerja tim
Inovasi & pembelajaran
Employee engagement
Well-being
Contoh nyata budaya kerja aman vs tidak aman
Neuroscience of fear & trust di tempat kerja
Fight, flight, freeze responses
Bagaimana otak merespons ancaman sosial
Mengapa karyawan memilih diam
Hubungan psychological safety dengan burnout
Peran pemimpin dalam menciptakan psychological safety
Leader as role model
Perilaku kunci pemimpin:
Listening without judgment
Humility & vulnerability
Appreciating input & dissent
Inclusive leadership behaviors
Prinsip komunikasi aman secara psikologis
Active listening & empathetic communication
Powerful & non-threatening questions
Feedback yang membangun (feedforward)
Psychological safety dalam meeting & diskusi
Ciri-ciri tim dengan psychological safety tinggi
Team norms & working agreements
Managing dominance, silence, dan micro-aggression
Psychological safety dalam kerja lintas fungsi
HARI 2 – SYSTEM, CULTURE & SUSTAINABILITY
Reframing mistakes as learning opportunities
Blameless culture vs accountability
Managing conflict safely & productively
Courageous conversation framework
Psychological safety dalam:
Meeting
Performance review
Feedback & coaching
Decision making
Ritual & habits yang membangun safety
Integrasi dengan HR practices
Hubungan psychological safety dengan:
Diversity, Equity & Inclusion
Mental health & well-being
Mengelola bias & unconscious bias
Menciptakan ruang aman bagi keberagaman suara
Alat ukur psychological safety (survey & pulse check)
Indikator perilaku & iklim kerja
Menginterpretasi data & menentukan prioritas
Continuous feedback loop
Membangun roadmap psychological safety
Peran leader, HR, dan karyawan
Integrasi dengan:
Engagement
Leadership development
Performance culture
Change management & sustainability
Peserta mampu:
Menciptakan lingkungan kerja yang aman secara psikologis
Mengembangkan perilaku kepemimpinan yang inklusif
Mendorong keterbukaan, keberanian berbicara, dan kolaborasi
Mengelola konflik dan kesalahan secara konstruktif
Mengukur dan meningkatkan psychological safety secara berkelanjutan
Pimpinan & manajer di semua level
HR Business Partner & HR Manager
Team Leader & Supervisor
Organizational Development & Culture Team
Employee Engagement & Well-being Team
4. Creating a Culture of Appreciation & Recognition
Membangun budaya kerja yang menghargai kontribusi setiap individu.
Budaya penghargaan dan pengakuan (appreciation & recognition) memainkan peran penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang positif, meningkatkan keterlibatan karyawan, dan memperkuat hubungan antara karyawan dan organisasi. Penghargaan yang diberikan secara tepat dan konsisten dapat meningkatkan semangat kerja, retensi karyawan, serta membangun motivasi intrinsik.
Namun, banyak organisasi yang belum secara sistematis merancang dan mengimplementasikan budaya ini. Meskipun penghargaan secara spontan dapat diberikan, jika tidak terstruktur dengan baik, hal itu dapat terasa tidak adil atau tidak efektif.
Pelatihan ini bertujuan untuk membantu organisasi membangun dan memelihara budaya penghargaan yang autentik dan berkelanjutan, dengan memanfaatkan berbagai teknik dan strategi untuk menghargai karyawan di setiap level.
Memberikan pemahaman dan keterampilan kepada peserta untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengelola budaya penghargaan dan pengakuan di seluruh organisasi guna meningkatkan keterlibatan, produktivitas, dan kesejahteraan karyawan.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami konsep dan pentingnya budaya penghargaan dan pengakuan dalam organisasi.
Mengidentifikasi berbagai jenis penghargaan yang efektif dan relevansi dalam berbagai konteks.
Menyusun strategi penghargaan yang autentik, inklusif, dan adil.
Mengembangkan sistem penghargaan yang dapat diukur dan terintegrasi dalam kebijakan perusahaan.
Menerapkan teknik-teknik pengakuan yang positif dan efektif di tingkat individu, tim, dan organisasi.
Menggunakan feedback untuk memperbaiki sistem penghargaan dan pengakuan.
Menyusun rencana aksi implementasi budaya penghargaan yang berkelanjutan.
Apa itu penghargaan dan pengakuan?
Perbedaan antara penghargaan intrinsik dan ekstrinsik
Penghargaan dalam konteks organisasi modern
Mengapa budaya penghargaan penting:
Meningkatkan motivasi & keterlibatan
Memperkuat hubungan kerja
Menumbuhkan loyalitas dan mengurangi turnover
Dampak penghargaan terhadap kinerja individu dan tim
Activity:
Refleksi diri: Bagaimana Anda merasa ketika dihargai di tempat kerja?
Mengapa penghargaan itu penting? (Teori motivasi seperti Maslow, Herzberg, dan McGregor)
Psikologi positif dalam penghargaan: Dampak positif terhadap emosi dan well-being
Efek penghargaan terhadap otak dan peningkatan kinerja
Jenis-jenis penghargaan berdasarkan preferensi individu: pengakuan publik vs pribadi, material vs non-material, formal vs informal
Cara membangun budaya penghargaan yang berkelanjutan
Penghargaan yang autentik dan berbasis nilai perusahaan
Menghargai upaya individu vs tim: Menyusun sistem yang adil
Mengintegrasikan penghargaan dalam budaya sehari-hari: Micro-recognition
Pemimpin sebagai role model dalam budaya penghargaan
Praktik terbaik dari organisasi global dalam membangun budaya penghargaan
Penghargaan dan pengakuan berbasis prestasi, perilaku, dan nilai
Recognition programs: Employee of the Month, annual awards, peer-to-peer recognition
Non-monetary recognition (pujian pribadi, kesempatan pengembangan)
Monetary recognition (bonus, penghargaan finansial)
Public vs private recognition
Recognition yang sesuai dengan preferensi generasi yang berbeda (Gen Z, Millennials, Gen X, Baby Boomers)
Mendesain program penghargaan yang adil dan transparan
Menyusun kriteria penghargaan yang jelas
Program penghargaan yang mudah diakses dan dipahami oleh semua karyawan
Penghargaan berbasis kinerja dan kontribusi tim
Menyelaraskan penghargaan dengan tujuan dan budaya organisasi
Penghargaan yang personal dan relevan bagi setiap individu
Cara menyusun penghargaan yang sesuai dengan nilai dan kebutuhan karyawan
Penghargaan yang berfokus pada pengembangan dan pembelajaran karyawan
Menyusun penghargaan untuk berbagai peran dan tingkat jabatan
Meningkatkan penghargaan antar rekan kerja (peer-to-peer recognition)
Menciptakan budaya pengakuan yang saling mendukung di antara rekan kerja
Teknik untuk memberi penghargaan dengan cara yang tidak formal tapi bermakna
Menggunakan teknologi untuk mendukung sistem pengakuan sosial
Workshop:
Menyusun mekanisme peer-to-peer recognition di tim peserta.
Tantangan umum dalam penerapan penghargaan: Bias, favoritisme, dan ketidakadilan
Menghindari penghargaan yang berlebihan atau tidak tepat sasaran
Mencegah burnout akibat ekspektasi yang tidak realistis
Mengelola ketidakseimbangan antara penghargaan formal dan informal
Menjaga keselarasan penghargaan dengan tujuan jangka panjang organisasi
Menyusun KPI dan metrik untuk mengevaluasi keberhasilan program penghargaan
Teknik untuk mengukur keterlibatan dan motivasi melalui feedback
Pengukuran melalui survei dan pulse checks
Bagaimana mengidentifikasi apakah penghargaan benar-benar memberikan dampak positif pada karyawan
Menggunakan data untuk memperbaiki dan menyesuaikan program penghargaan
Membangun program penghargaan yang berkelanjutan dan berkembang seiring waktu
Mengintegrasikan penghargaan dalam budaya organisasi secara berkelanjutan
Menciptakan loop umpan balik dan pengakuan yang terus berkembang
Mengadaptasi penghargaan untuk tetap relevan di tengah perubahan budaya kerja
Peserta akan mampu:
Membuat dan mengimplementasikan strategi penghargaan yang efektif dan adil
Menerapkan teknik peer-to-peer recognition dan penghargaan pribadi
Menyusun sistem penghargaan yang terukur dan berkelanjutan
Mengelola tantangan penghargaan dengan pendekatan yang inklusif dan adil
Membangun budaya pengakuan dan penghargaan yang menyeluruh di seluruh organisasi
HR Manager & HR Business Partner
Pimpinan Tim dan Supervisor
Team Leaders & Managers yang ingin meningkatkan motivasi tim
5. Managing Work-Life Integration & Burnout Prevention
Strategi mencegah kelelahan kerja dan meningkatkan kualitas hidup karyawan
Perubahan dunia kerja yang semakin dinamis, tuntutan kinerja tinggi, pemanfaatan teknologi digital, serta batas kerja–kehidupan pribadi yang semakin kabur telah meningkatkan risiko burnout, stres berkepanjangan, dan penurunan kesejahteraan karyawan. Kondisi ini berdampak langsung pada produktivitas, engagement, kesehatan mental, dan retensi karyawan.
Organisasi modern dituntut tidak hanya fokus pada hasil kerja, tetapi juga mampu menciptakan sistem dan budaya yang mendukung work-life integration yang sehat—bukan sekadar work-life balance. Pemimpin dan HR memiliki peran strategis dalam mengenali tanda-tanda burnout, membangun lingkungan kerja yang suportif, serta merancang kebijakan dan praktik kerja yang berkelanjutan.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman, keterampilan praktis, dan tools dalam mengelola work-life integration sekaligus mencegah burnout secara sistematis di tingkat individu, tim, dan organisasi.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami konsep work-life integration dan perbedaannya dengan work-life balance
Mengenali penyebab, gejala, dan dampak burnout pada individu dan organisasi
Mengidentifikasi faktor risiko burnout di lingkungan kerja masing-masing
Menerapkan strategi pencegahan burnout berbasis individu, tim, dan organisasi
Mengembangkan peran pemimpin dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat
Menyusun rencana aksi praktis untuk meningkatkan kesejahteraan dan keberlanjutan kinerja karyawan
Session 1: Konsep Dasar Work-Life Integration
Evolusi konsep: Work-Life Balance vs Work-Life Integration
Tantangan dunia kerja modern (VUCA, digital overload, remote & hybrid work)
Dampak integrasi kerja-kehidupan terhadap kinerja dan wellbeing
Peran individu, pemimpin, dan organisasi
Session 2: Memahami Burnout Secara Menyeluruh
Definisi burnout (WHO & perspektif organisasi)
Dimensi burnout:
Emotional exhaustion
Depersonalization
Reduced personal accomplishment
Perbedaan stres kerja, kelelahan, dan burnout
Dampak burnout terhadap produktivitas, engagement, dan kesehatan
Session 3: Faktor Penyebab & Risiko Burnout di Tempat Kerja
Beban kerja & ekspektasi tidak realistis
Kurangnya kontrol dan otonomi kerja
Budaya kerja toksik dan poor leadership
Kurangnya apresiasi & psychological safety
Studi kasus burnout di organisasi
Session 4: Self-Awareness & Personal Energy Management
Mengenali tanda burnout pada diri sendiri
Manajemen energi vs manajemen waktu
Boundary management (fisik, emosional, digital)
Teknik dasar resilience & stress management
Session 5: Strategi Organisasi dalam Burnout Prevention
Kebijakan kerja fleksibel & wellbeing programs
Job design & workload management
Sistem dukungan (EAP, counseling, peer support)
Peran HR dalam membangun sistem pencegahan burnout
Session 6: Leadership Role dalam Work-Life Integration
Leader sebagai role model work-life integration
Coaching & supportive leadership
Membangun psychological safety dalam tim
Komunikasi empatik & manajemen ekspektasi
Simulasi percakapan pemimpin–karyawan
Session 7: Membangun Budaya Kerja Sehat & Berkelanjutan
Budaya performa berkelanjutan (sustainable performance)
Integrasi wellbeing dengan KPI & people management
Mengukur wellbeing & burnout risk (survey & indikator)
Best practice organisasi dengan budaya kerja sehat
Session 8: Action Plan & Implementation Workshop
Identifikasi isu utama di unit kerja masing-masing
Penyusunan Work-Life Integration & Burnout Prevention Action Plan
Quick wins & long-term initiatives
Komitmen individu dan organisasi
Presentasi dan feedback kelompok
Peserta akan menghasilkan dan membawa pulang:
Pemahaman komprehensif tentang work-life integration & burnout prevention
Burnout Risk Checklist untuk individu dan tim
Personal Work-Life Integration Plan
Action Plan Pencegahan Burnout di unit kerja
Framework peran pemimpin dalam menjaga wellbeing tim
Template kebijakan & inisiatif wellbeing organisasi
Peningkatan awareness, empati, dan keterampilan kepemimpinan manusiawi
Ceramah interaktif & diskusi terbuka
Studi kasus nyata & best practices
Self-assessment & refleksi individu
Simulasi dan role play kepemimpinan
Workshop penyusunan action plan
Presentasi kelompok & feedback fasilitator
HR Manager, HR Business Partner, dan HR Development
Supervisor, Manager, dan Leader semua level
Tim People & Culture / Wellbeing
Profesional yang mengelola tim dengan tekanan tinggi
Organisasi yang ingin meningkatkan engagement & retensi karyawan
6. Employee & Internal Communication Strategy
Membangun sistem umpan balik dan komunikasi dua arah yang efektif.
Di era perubahan cepat, keberhasilan organisasi sangat ditentukan oleh kualitas komunikasi internal dan kemampuan organisasi dalam mendengarkan suara karyawan (employee listening) secara sistematis. Banyak inisiatif strategis gagal bukan karena strategi yang buruk, tetapi karena komunikasi yang tidak efektif, kurangnya kepercayaan, serta tidak adanya mekanisme umpan balik dua arah yang sehat.
Employee listening yang efektif membantu organisasi memahami kebutuhan, aspirasi, tantangan, dan ide karyawan secara real-time. Sementara itu, strategi komunikasi internal yang terstruktur memastikan pesan organisasi tersampaikan dengan jelas, konsisten, dan bermakna di seluruh level.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan kerangka kerja, tools, dan praktik terbaik dalam membangun sistem employee listening dan strategi komunikasi internal yang terintegrasi guna meningkatkan engagement, kepercayaan, dan kinerja organisasi.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami konsep dan pentingnya employee listening dan komunikasi internal strategis
Merancang sistem employee listening yang berkelanjutan dan berbasis data
Mengidentifikasi kanal dan metode komunikasi internal yang efektif
Membangun komunikasi dua arah yang transparan dan inklusif
Meningkatkan kepercayaan, engagement, dan psychological safety karyawan
Menyusun strategi dan rencana implementasi komunikasi internal di organisasi
Session 1: Peran Strategis Employee Listening
Definisi dan evolusi employee listening
Perbedaan employee listening vs employee survey tradisional
Employee voice, trust, dan engagement
Dampak employee listening terhadap kinerja organisasi
Session 2: Framework & Metode Employee Listening
Employee listening ecosystem
Metode employee listening:
Engagement survey
Pulse survey
Focus group discussion (FGD)
Stay interview & exit interview
Digital listening (platform & analytics)
Kelebihan dan keterbatasan masing-masing metode
Session 3: Analisis Data & Insight dari Suara Karyawan
Mengolah data kuantitatif & kualitatif
Identifikasi tema utama & pain points
Prioritisasi isu strategis
Menghubungkan insight karyawan dengan keputusan bisnis
Studi kasus employee listening
Session 4: Dasar-Dasar Komunikasi Internal yang Efektif
Prinsip komunikasi internal strategis
Komunikasi satu arah vs dua arah
Audience segmentation dalam komunikasi internal
Tantangan komunikasi di organisasi besar & multigenerasi
Session 5: Internal Communication Strategy Design
Menyusun tujuan & pesan utama komunikasi internal
Pemilihan channel komunikasi:
Town hall
Email & newsletter
Intranet & collaboration tools
Media sosial internal
Konsistensi pesan & storytelling organisasi
Session 6: Leadership Communication & Employee Engagement
Peran pemimpin sebagai communicator
Komunikasi empatik & transparan
Mengelola isu sensitif & perubahan organisasi
Simulasi komunikasi pemimpin dengan tim
Session 7: Integrasi Employee Listening dengan Komunikasi Internal
Menutup feedback loop (listen–act–communicate)
Menyampaikan hasil listening kepada karyawan
Mengelola ekspektasi & membangun kepercayaan
Mengukur efektivitas komunikasi internal
Session 8: Workshop Action Plan & Implementation
Assessment kondisi komunikasi & listening organisasi
Penyusunan Employee Listening & Internal Communication Strategy Plan
Penentuan quick wins & inisiatif jangka panjang
Presentasi rencana & feedback fasilitator
Peserta akan menghasilkan dan membawa pulang:
Framework Employee Listening yang siap diterapkan
Template Survey & Feedback Tools (pulse survey, FGD guide, stay interview)
Internal Communication Strategy Map
Action Plan Employee Listening & Communication
Panduan menutup feedback loop secara efektif
Peningkatan kemampuan komunikasi strategis & empatik
Ceramah interaktif & diskusi kelompok
Studi kasus & best practice organisasi
Workshop desain strategi & tools
Simulasi komunikasi dan role play
Presentasi kelompok & feedback fasilitator
HR Manager & HR Business Partner
Tim Corporate Communication & Internal Communication
Leader, Supervisor, dan Manager
Tim People & Culture / Employee Engagement
Organisasi yang ingin memperkuat komunikasi internal & engagement
7. Diversity, Equity & Inclusion (DEI) Awareness
Mendorong lingkungan kerja yang menghargai keberagaman dan kesetaraan.
Keberagaman tenaga kerja yang mencakup perbedaan latar belakang, generasi, gender, budaya, cara berpikir, dan pengalaman merupakan realitas organisasi modern. Namun, keberagaman tanpa diikuti kesetaraan (equity) dan inklusi (inclusion) dapat menimbulkan bias, ketimpangan, konflik, serta menurunkan engagement dan kinerja.
Organisasi yang berhasil mengelola Diversity, Equity & Inclusion (DEI) secara sadar dan sistematis terbukti memiliki tingkat inovasi, kolaborasi, dan kepercayaan yang lebih tinggi. Oleh karena itu, membangun kesadaran DEI (DEI Awareness) menjadi fondasi penting sebelum organisasi melangkah ke kebijakan dan praktik DEI yang lebih lanjut.
Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan pemahaman, kesadaran diri, dan perilaku inklusif peserta agar mampu menciptakan lingkungan kerja yang adil, saling menghargai, dan aman secara psikologis.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami konsep dan prinsip dasar Diversity, Equity & Inclusion (DEI)
Mengenali berbagai bentuk keberagaman di tempat kerja
Mengidentifikasi bias sadar dan tidak sadar (unconscious bias)
Membangun sikap dan perilaku kerja yang inklusif
Meningkatkan empati, respek, dan kolaborasi lintas perbedaan
Mendukung terciptanya budaya kerja yang adil dan aman bagi semua
Session 1: Memahami Diversity, Equity & Inclusion
Definisi Diversity, Equity, dan Inclusion
Perbedaan equality vs equity
Mengapa DEI penting bagi organisasi dan individu
Dampak DEI terhadap engagement, inovasi, dan kinerja
Session 2: Bentuk-Bentuk Keberagaman di Tempat Kerja
Keberagaman demografis, budaya, dan generasi
Diversity of thought & experience
Tantangan dan peluang dalam tim yang beragam
Studi kasus keberagaman di organisasi
Session 3: Unconscious Bias & Stereotype
Apa itu unconscious bias?
Jenis-jenis bias di tempat kerja (affinity bias, confirmation bias, halo effect, dll.)
Dampak bias dalam rekrutmen, penilaian kinerja, dan kolaborasi
Self-assessment bias dan refleksi individu
Session 4: Empati, Respect & Psychological Safety
Empati sebagai kompetensi inti DEI
Peran psychological safety dalam inklusi
Komunikasi yang menghargai perbedaan
Latihan empati & perspektif taking
Session 5: Inclusive Behaviors di Tempat Kerja
Perilaku kerja inklusif sehari-hari
Bahasa & komunikasi yang inklusif
Mengelola perbedaan pendapat secara konstruktif
Studi kasus & diskusi kelompok
Session 6: DEI dalam Interaksi Tim & Kepemimpinan
Peran pemimpin dalam menciptakan lingkungan inklusif
Inclusive leadership mindset
Menghadapi microaggression & eksklusi
Simulasi situasi DEI di tempat kerja
Session 7: Membangun Budaya Inklusif Berkelanjutan
DEI sebagai bagian dari budaya organisasi
Peran individu sebagai DEI ally
Integrasi DEI dalam praktik kerja sehari-hari
Mengukur awareness & perilaku inklusif
Session 8: Action Plan & Personal Commitment
Refleksi pembelajaran 2 hari
Penyusunan Personal DEI Action Plan
Komitmen perilaku inklusif individu & tim
Presentasi dan sharing best practice
Peserta akan memperoleh:
Pemahaman dasar DEI yang komprehensif
Awareness terhadap bias pribadi dan dampaknya
Inclusive Behavior Checklist
Personal DEI Action Plan
Peningkatan empati, kesadaran, dan keterampilan interaksi lintas perbedaan
Komitmen nyata untuk menciptakan lingkungan kerja inklusif
Ceramah interaktif & diskusi terbuka
Studi kasus dan refleksi individu
Self-assessment & experiential learning
Role play & simulasi situasi DEI
Workshop penyusunan action plan
Seluruh karyawan (staff hingga manajemen)
Supervisor dan leader semua level
HR, HR Business Partner, dan People & Culture
Organisasi yang ingin membangun budaya kerja inklusif dan saling menghargai
8. Employee Survey & Organizational Climate Analysis
Merancang dan menganalisis survei untuk memahami kondisi organisasi.
Pemahaman yang akurat terhadap persepsi, pengalaman, dan kondisi psikologis karyawan merupakan fondasi penting dalam pengambilan keputusan manajemen SDM dan pengembangan organisasi. Tanpa data yang valid, organisasi berisiko mengambil kebijakan yang tidak tepat sasaran, menurunkan engagement, serta mengabaikan isu laten dalam iklim organisasi.
Employee Survey dan Organizational Climate Analysis merupakan alat strategis untuk menangkap suara karyawan secara sistematis, mengukur kualitas lingkungan kerja, serta mengidentifikasi kekuatan dan area perbaikan organisasi. Namun, banyak survei karyawan gagal memberikan dampak nyata karena desain yang kurang tepat, analisis yang dangkal, atau tidak ditindaklanjuti secara efektif.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan, keterampilan analitis, dan tools praktis dalam merancang, melaksanakan, menganalisis, serta memanfaatkan hasil employee survey dan analisis iklim organisasi secara strategis dan berkelanjutan.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami konsep dan peran strategis employee survey & organizational climate
Merancang instrumen survei yang valid, reliabel, dan relevan
Melaksanakan survei karyawan secara efektif dan etis
Menganalisis dan menginterpretasikan data survei secara tepat
Mengidentifikasi isu utama iklim organisasi dan akar masalahnya
Menyusun rekomendasi dan action plan berbasis hasil survei
Session 1: Konsep Employee Survey & Organizational Climate
Definisi employee survey dan organizational climate
Perbedaan climate, culture, dan engagement
Manfaat survei bagi manajemen dan karyawan
Etika dan prinsip confidentiality dalam survei
Session 2: Menentukan Tujuan & Scope Employee Survey
Jenis-jenis employee survey:
Organizational climate survey
Engagement survey
Pulse survey
Issue-based survey
Menentukan tujuan, sasaran, dan dimensi pengukuran
Stakeholder mapping dan komunikasi survei
Session 3: Desain Instrumen & Kuesioner Survei
Prinsip penyusunan pertanyaan yang baik
Skala pengukuran (Likert, semantic, open-ended)
Menghindari bias pertanyaan
Validitas & reliabilitas dasar
Workshop penyusunan kuesioner
Session 4: Pelaksanaan & Manajemen Survei
Metode pelaksanaan (online vs offline)
Strategi meningkatkan response rate
Manajemen data dan keamanan informasi
Timeline dan peran tim survei
Session 5: Analisis Data Employee Survey
Pengolahan data kuantitatif dasar
Analisis skor, indeks, dan benchmarking
Analisis data kualitatif (komentar terbuka)
Identifikasi pola dan tren
Session 6: Organizational Climate Analysis
Dimensi iklim organisasi (leadership, komunikasi, keadilan, kerja sama, dll.)
Analisis gap dan root cause analysis
Segmentasi hasil (unit, level, demografi)
Studi kasus analisis iklim organisasi
Session 7: Menyusun Insight, Laporan & Rekomendasi
Menyusun executive summary
Visualisasi data dan dashboard sederhana
Menyampaikan temuan secara objektif dan konstruktif
Mengelola isu sensitif dalam laporan
Session 8: Action Planning & Closing the Feedback Loop
Menentukan prioritas perbaikan
Penyusunan Survey-Based Action Plan
Komunikasi hasil survei kepada karyawan
Monitoring, evaluasi, dan survei lanjutan
Peserta akan menghasilkan dan membawa pulang:
Template Employee Survey & Kuesioner
Framework Organizational Climate Analysis
Contoh Dashboard & Laporan Survei
Action Plan berbasis hasil survei
Panduan pelaksanaan survei yang etis dan efektif
Peningkatan kemampuan analisis dan pengambilan keputusan berbasis data
Ceramah interaktif & diskusi kelompok
Studi kasus & praktik analisis data
Workshop penyusunan instrumen & action plan
Simulasi presentasi hasil survei
Feedback dan coaching fasilitator
HR Manager, HR Business Partner, dan HR Development
Tim People Analytics & Organizational Development
Corporate Communication & Employee Engagement Team
Pimpinan unit yang terlibat dalam perbaikan iklim kerja
9. Hybrid Work & Remote Workforce Management
Mengelola tim kerja jarak jauh dan hibrida dengan produktivitas tinggi.
Perkembangan teknologi digital dan perubahan ekspektasi tenaga kerja telah mendorong organisasi untuk mengadopsi model kerja hybrid dan remote secara permanen. Fleksibilitas kerja terbukti meningkatkan produktivitas, engagement, dan daya tarik talenta, namun juga menghadirkan tantangan baru seperti penurunan kolaborasi, kesenjangan komunikasi, kontrol kinerja, keamanan data, serta risiko kelelahan kerja.
Banyak pemimpin dan praktisi HR masih menghadapi kesulitan dalam mengelola kinerja, membangun kepercayaan, menjaga budaya kerja, dan memastikan keadilan dalam sistem kerja hybrid dan remote. Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan manajerial dan HR yang adaptif, berbasis hasil (outcome-based), serta didukung kebijakan dan kompetensi kepemimpinan yang tepat.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan kerangka kerja, praktik terbaik, dan tools praktis dalam mengelola tenaga kerja hybrid dan remote secara efektif, berkelanjutan, dan berorientasi kinerja.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami konsep, model, dan tantangan kerja hybrid & remote
Merancang kebijakan dan tata kelola kerja hybrid yang adil dan efektif
Mengelola kinerja, produktivitas, dan kolaborasi tim jarak jauh
Membangun kepercayaan, engagement, dan budaya kerja inklusif
Mengelola risiko burnout, komunikasi, dan keamanan kerja jarak jauh
Menyusun rencana implementasi hybrid & remote workforce management
Session 1: Evolusi Dunia Kerja & Hybrid Work Model
Perubahan dunia kerja pasca pandemi
Definisi hybrid work & remote work
Model kerja hybrid (fixed, flexible, remote-first)
Manfaat dan risiko bagi organisasi & karyawan
Session 2: Tantangan Manajemen Hybrid & Remote Workforce
Pengelolaan kinerja berbasis output
Koordinasi dan kolaborasi lintas lokasi
Komunikasi dan kesenjangan informasi
Isu keadilan, visibility, dan trust
Session 3: Kebijakan & Tata Kelola Kerja Hybrid
Prinsip penyusunan hybrid work policy
Penentuan eligibility & fairness
Jam kerja, fleksibilitas, dan SLA
Pengelolaan keamanan data & privasi
Studi kasus kebijakan hybrid
Session 4: Tools & Teknologi Pendukung Kerja Hybrid
Digital collaboration tools
Project & performance tracking tools
Virtual meeting effectiveness
Best practice penggunaan teknologi
Session 5: Managing Performance in Hybrid & Remote Teams
Outcome-based performance management
Goal setting & KPI di lingkungan hybrid
Monitoring tanpa micromanagement
Feedback & coaching jarak jauh
Session 6: Leadership & Communication in Hybrid Teams
Kompetensi pemimpin hybrid & remote
Komunikasi efektif lintas kanal
Membangun kepercayaan & psychological safety
Simulasi komunikasi dan coaching jarak jauh
Session 7: Engagement, Wellbeing & Burnout Prevention
Menjaga engagement tim jarak jauh
Work-life integration di hybrid work
Deteksi dini burnout & disengagement
Peran HR & leader dalam wellbeing
Session 8: Action Plan & Implementation Workshop
Assessment kesiapan organisasi
Penyusunan Hybrid & Remote Workforce Management Action Plan
Quick wins & roadmap implementasi
Presentasi rencana dan feedback fasilitator
Peserta akan memperoleh:
Framework Hybrid & Remote Workforce Management
Template Hybrid Work Policy & Guidelines
Tools Pengelolaan Kinerja Tim Hybrid
Action Plan Implementasi Kerja Hybrid & Remote
Peningkatan keterampilan kepemimpinan jarak jauh
Strategi menjaga engagement, trust, dan wellbeing
Ceramah interaktif & diskusi kelompok
Studi kasus & best practice
Simulasi kepemimpinan & komunikasi virtual
Workshop penyusunan kebijakan & action plan
Presentasi kelompok & feedback fasilitator
HR Manager, HR Business Partner, dan People & Culture
Supervisor, Manager, dan Leader semua level
Tim Organizational Development & Transformation
Organisasi yang menerapkan atau akan menerapkan kerja hybrid/remote
10. Kesehatan Mental & Program Wellbeing di Tempat Kerja
Meningkatkan kesejahteraan emosional dan fisik karyawan secara terencana.
Tingginya tuntutan kerja, perubahan cara kerja (hybrid/remote), tekanan target, serta ketidakpastian bisnis telah meningkatkan risiko stres kerja, kelelahan mental, burnout, dan gangguan kesejahteraan psikologis karyawan. Isu kesehatan mental tidak lagi bersifat personal semata, tetapi telah menjadi isu strategis organisasi yang berdampak langsung pada produktivitas, engagement, absensi, turnover, dan citra perusahaan.
Organisasi yang progresif mulai menyadari pentingnya membangun Program Wellbeing yang holistik—mencakup aspek mental, emosional, sosial, dan fisik—serta menciptakan lingkungan kerja yang aman secara psikologis. HR dan pimpinan memiliki peran krusial dalam meningkatkan awareness kesehatan mental, mencegah risiko, serta merancang program wellbeing yang berkelanjutan dan terintegrasi dengan strategi bisnis.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman, sensitivitas, kerangka kerja, dan tools praktis dalam mengelola kesehatan mental dan mengembangkan program wellbeing yang efektif di tempat kerja.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami konsep kesehatan mental dan wellbeing di konteks kerja
Mengenali tanda-tanda stres, burnout, dan risiko gangguan kesehatan mental
Membangun awareness dan mengurangi stigma kesehatan mental di tempat kerja
Menjalankan peran pemimpin dan HR dalam mendukung wellbeing karyawan
Merancang program wellbeing yang holistik dan berkelanjutan
Menyusun rencana implementasi dan evaluasi program wellbeing
Session 1: Kesehatan Mental & Wellbeing di Dunia Kerja Modern
Definisi kesehatan mental & workplace wellbeing
Dimensi wellbeing: mental, emosional, sosial, fisik, finansial
Dampak kesehatan mental terhadap kinerja & organisasi
Fakta & tren kesehatan mental di tempat kerja
Session 2: Stres Kerja, Burnout & Risiko Psikososial
Perbedaan stres, kelelahan, dan burnout
Penyebab utama stres dan burnout di tempat kerja
Faktor risiko psikososial (beban kerja, konflik peran, budaya kerja)
Studi kasus kesehatan mental di organisasi
Session 3: Mental Health Awareness & Reducing Stigma
Stigma kesehatan mental dan dampaknya
Membangun empati dan kesadaran kolektif
Bahasa & komunikasi yang sensitif terhadap kesehatan mental
Latihan refleksi & self-awareness
Session 4: Self-Care, Resilience & Coping Strategy
Manajemen energi dan emosi
Teknik dasar self-care & stress management
Resilience mindset di lingkungan kerja
Boundary setting & work-life integration
Praktik singkat mindfulness / grounding (opsional)
Session 5: Peran Organisasi & Pemimpin dalam Wellbeing
Tanggung jawab organisasi terhadap kesehatan mental
Peran pemimpin sebagai role model
Psychological safety & supportive leadership
Menangani percakapan sensitif terkait kesehatan mental
Session 6: Merancang Program Wellbeing di Tempat Kerja
Prinsip program wellbeing yang efektif
Jenis inisiatif wellbeing:
Preventive (awareness, edukasi)
Supportive (counseling, EAP, peer support)
Systemic (job design, fleksibilitas kerja)
Integrasi wellbeing dengan HR policy & budaya kerja
Session 7: Implementasi, Monitoring & Evaluasi Program
Tahapan implementasi program wellbeing
Indikator keberhasilan & wellbeing metrics
Mengukur dampak program terhadap engagement & kinerja
Continuous improvement & sustainability
Session 8: Action Plan & Commitment Workshop
Assessment kondisi wellbeing organisasi
Penyusunan Workplace Mental Health & Wellbeing Action Plan
Quick wins & inisiatif jangka panjang
Komitmen individu, leader, dan organisasi
Presentasi dan feedback fasilitator
Peserta akan memperoleh:
Pemahaman komprehensif tentang kesehatan mental & wellbeing di tempat kerja
Mental Health Awareness Checklist
Framework Program Wellbeing Organisasi
Template Workplace Wellbeing Action Plan
Panduan peran pemimpin dalam mendukung kesehatan mental tim
Peningkatan empati, awareness, dan keterampilan komunikasi sensitif
Ceramah interaktif & diskusi terbuka
Studi kasus & refleksi individu
Self-assessment & experiential learning
Role play & simulasi percakapan sensitif
Workshop penyusunan action plan
HR Manager, HR Business Partner, dan People & Culture
Supervisor, Manager, dan Leader semua level
Tim Employee Engagement, Wellbeing, dan OD
Organisasi yang ingin membangun lingkungan kerja sehat & berkelanjutan
INDUSTRIAL RELATIONS, COMPLIANCE & HR ADMINISTRATION
Tentukan dan pastikan Materi Training terkini, outline/silabus dengan jadwal terbaik pelaksanaan training karyawan perusahaan. Pilihan Waktu Training Flexible Minimal 2 Minggu Hari Kerja.
1. UU Ketenagakerjaan & Peraturan HR Terkini (Omnibus Law)
Pemahaman mendalam tentang regulasi ketenagakerjaan terbaru dan penerapannya.
Perubahan regulasi ketenagakerjaan di Indonesia, khususnya melalui Undang-Undang Cipta Kerja (Omnibus Law) beserta peraturan turunannya (PP, Permenaker, dan regulasi teknis lainnya), membawa implikasi besar terhadap kebijakan dan praktik Human Resources Management. Perubahan ini mencakup aspek hubungan kerja, upah, waktu kerja, PHK, jaminan sosial, serta sanksi hukum.
Banyak organisasi dan praktisi HR menghadapi tantangan dalam memahami, menafsirkan, dan mengimplementasikan regulasi ketenagakerjaan terbaru secara tepat dan patuh hukum. Ketidaksesuaian kebijakan HR dengan peraturan yang berlaku dapat menimbulkan risiko hukum, konflik industrial, dan kerugian reputasi perusahaan.
Pelatihan ini dirancang untuk memberikan pemahaman komprehensif, praktis, dan aplikatif mengenai UU Ketenagakerjaan dan peraturan HR terkini, sehingga peserta mampu mengelola SDM secara profesional, patuh hukum, dan minim risiko.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami kerangka hukum ketenagakerjaan di Indonesia secara utuh
Menjelaskan perubahan utama dalam UU Cipta Kerja (Omnibus Law) dan aturan turunannya
Menerapkan regulasi ketenagakerjaan dalam kebijakan dan praktik HR sehari-hari
Mengelola hubungan kerja, upah, dan PHK sesuai ketentuan hukum terbaru
Mengantisipasi dan meminimalkan risiko hukum ketenagakerjaan
Menyusun atau mereview kebijakan HR agar selaras dengan regulasi yang berlaku
Session 1: Kerangka Hukum Ketenagakerjaan di Indonesia
Sistem hukum ketenagakerjaan Indonesia
Hierarki peraturan perundang-undangan
Hubungan UU Ketenagakerjaan, UU Cipta Kerja, PP & Permenaker
Hak dan kewajiban pengusaha & pekerja
Session 2: Perubahan Kunci dalam UU Cipta Kerja (Omnibus Law)
Latar belakang dan tujuan UU Cipta Kerja
Perubahan signifikan dibanding UU No. 13 Tahun 2003
Prinsip fleksibilitas kerja & perlindungan pekerja
Dampak UU Cipta Kerja bagi perusahaan dan pekerja
Session 3: Hubungan Kerja & Perjanjian Kerja
PKWT dan PKWTT (aturan terbaru)
Outsourcing dan alih daya
Masa percobaan kerja
Perjanjian kerja, Peraturan Perusahaan (PP), dan PKB
Studi kasus hubungan kerja
Session 4: Waktu Kerja, Upah & Jaminan Sosial
Jam kerja, lembur, dan waktu istirahat
Sistem pengupahan terbaru (upah minimum, struktur & skala upah)
THR dan tunjangan lainnya
Jaminan sosial ketenagakerjaan & kesehatan (BPJS)
Session 5: Pemutusan Hubungan Kerja (PHK)
Alasan PHK yang diperbolehkan
Prosedur PHK sesuai Omnibus Law
Hak karyawan akibat PHK (pesangon, uang penghargaan, penggantian hak)
PHK karena efisiensi, force majeure, dan pelanggaran
Studi kasus PHK
Session 6: Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
Jenis perselisihan hubungan industrial
Mekanisme bipartit, mediasi, konsiliasi, arbitrase
Peran Disnaker dan Pengadilan Hubungan Industrial
Strategi pencegahan konflik industrial
Session 7: Sanksi, Kepatuhan & Risiko Hukum HR
Sanksi administratif & pidana ketenagakerjaan
Risiko hukum akibat pelanggaran regulasi
Audit kepatuhan ketenagakerjaan (HR compliance check)
Best practice HR compliance
Session 8: Workshop Review Kebijakan HR & Action Plan
Review kebijakan HR eksisting (PK, PP, SOP HR)
Identifikasi gap dengan regulasi terbaru
Penyusunan HR Legal Compliance Action Plan
Diskusi kasus nyata peserta & rekomendasi praktis
Peserta akan memperoleh:
Pemahaman komprehensif UU Ketenagakerjaan & Omnibus Law
Ringkasan perubahan regulasi ketenagakerjaan terkini
Checklist Kepatuhan HR (HR Compliance Checklist)
Template kebijakan HR sesuai regulasi
Panduan praktis pengelolaan hubungan kerja & PHK
Action Plan kepatuhan hukum ketenagakerjaan
Ceramah interaktif & diskusi tanya jawab
Studi kasus aktual ketenagakerjaan
Simulasi & analisis kasus hukum HR
Workshop review kebijakan HR
Sharing best practice & pengalaman lapangan
HR Manager, HR Supervisor, dan HR Officer
HR Business Partner & People & Culture
Legal Officer / Corporate Legal
Manajer & pimpinan unit kerja
Praktisi HR yang bertanggung jawab atas kepatuhan ketenagakerjaan
2. Industrial Relations & Conflict Management
Menjaga hubungan kerja harmonis dan menyelesaikan perselisihan dengan damai.
Hubungan industrial yang harmonis merupakan fondasi utama keberlangsungan dan produktivitas organisasi. Dinamika hubungan antara manajemen, pekerja, dan serikat pekerja semakin kompleks seiring perubahan regulasi ketenagakerjaan, tuntutan pekerja, serta tantangan bisnis yang semakin kompetitif. Konflik hubungan industrial yang tidak dikelola dengan baik berpotensi menimbulkan perselisihan berkepanjangan, penurunan kinerja, gangguan operasional, hingga risiko hukum dan reputasi perusahaan.
Praktisi HR, pimpinan, dan manajer lini dituntut tidak hanya memahami aspek hukum ketenagakerjaan, tetapi juga memiliki keterampilan manajemen konflik, komunikasi, dan negosiasi yang efektif. Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan pemahaman strategis dan keterampilan praktis dalam membangun hubungan industrial yang sehat serta mengelola konflik secara profesional, preventif, dan konstruktif.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami konsep, prinsip, dan kerangka hubungan industrial di Indonesia
Mengidentifikasi potensi konflik hubungan industrial sejak dini
Mengelola konflik secara efektif sebelum berkembang menjadi perselisihan formal
Menerapkan strategi komunikasi dan negosiasi yang konstruktif
Menangani perselisihan hubungan industrial sesuai mekanisme hukum
Membangun hubungan industrial yang harmonis, dinamis, dan berkeadilan
Session 1: Konsep & Kerangka Hubungan Industrial
Pengertian dan tujuan hubungan industrial
Prinsip Hubungan Industrial Pancasila
Para pihak dalam hubungan industrial (pengusaha, pekerja, pemerintah)
Peran HR & manajemen dalam hubungan industrial
Session 2: Regulasi Hubungan Industrial di Indonesia
UU Ketenagakerjaan & UU Cipta Kerja (Omnibus Law)
Hak dan kewajiban pengusaha & pekerja
Peraturan Perusahaan (PP), PKB, dan perjanjian kerja
Peran serikat pekerja dalam hubungan industrial
Session 3: Dinamika Konflik Hubungan Industrial
Jenis konflik dalam hubungan industrial
Sumber dan akar penyebab konflik
Tahapan eskalasi konflik
Dampak konflik terhadap organisasi
Session 4: Deteksi Dini & Pencegahan Konflik
Early warning system konflik industrial
Indikator potensi konflik di tempat kerja
Peran komunikasi internal dan keterbukaan informasi
Membangun kepercayaan dan engagement karyawan
Studi kasus konflik industrial
Session 5: Teknik Manajemen Konflik di Tempat Kerja
Gaya dan pendekatan dalam mengelola konflik
Conflict handling styles (avoid, accommodate, compete, compromise, collaborate)
Peran pemimpin dan HR sebagai mediator internal
Simulasi penanganan konflik
Session 6: Komunikasi & Negosiasi Hubungan Industrial
Komunikasi efektif dalam situasi konflik
Teknik komunikasi asertif dan empatik
Dasar-dasar negosiasi hubungan industrial
Strategi win-win solution
Role play negosiasi dengan serikat pekerja
Session 7: Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial
Jenis perselisihan hubungan industrial
Mekanisme penyelesaian:
Bipartit
Mediasi
Konsiliasi
Arbitrase
Proses Pengadilan Hubungan Industrial (PHI)
Best practice penanganan perselisihan
Session 8: Workshop & Action Plan Hubungan Industrial
Analisis kasus nyata peserta
Penyusunan Industrial Relations Action Plan
Strategi membangun hubungan industrial jangka panjang
Komitmen perbaikan & tindak lanjut
Peserta akan memperoleh:
Pemahaman komprehensif hubungan industrial & konflik kerja
Checklist deteksi dini konflik hubungan industrial
Panduan manajemen konflik & komunikasi efektif
Framework negosiasi hubungan industrial
Panduan mekanisme penyelesaian perselisihan industrial
Action Plan peningkatan hubungan industrial di organisasi
Ceramah interaktif
Diskusi kelompok
Studi kasus aktua
Workshop penyusunan action plan
HR Manager, HR Business Partner, dan HR Officer
Industrial Relations Officer
Legal / Compliance Officer
Line Manager & Supervisor
Pimpinan unit kerja
Pengurus serikat pekerja (joint session bila diperlukan)
3. Handling Employee Misconduct & Disciplinary Action
Panduan menangani pelanggaran disiplin secara profesional dan legal.
Dalam pengelolaan sumber daya manusia, pelanggaran disiplin dan perilaku tidak sesuai (employee misconduct) merupakan tantangan yang hampir selalu dihadapi organisasi. Jika tidak ditangani secara tepat, adil, dan konsisten, pelanggaran karyawan dapat berdampak pada menurunnya produktivitas, rusaknya budaya kerja, meningkatnya konflik hubungan industrial, serta risiko hukum bagi perusahaan.
Di sisi lain, tindakan disiplin yang terlalu keras, tidak terdokumentasi dengan baik, atau tidak sesuai prosedur ketenagakerjaan dapat memicu perselisihan, gugatan hukum, dan ketidakpercayaan karyawan. Oleh karena itu, HR dan pimpinan perlu memiliki pemahaman hukum ketenagakerjaan, keterampilan investigasi, komunikasi, serta penerapan sanksi disiplin yang profesional dan objektif.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali peserta dengan kerangka kerja, keterampilan praktis, dan best practice dalam menangani pelanggaran karyawan serta menerapkan tindakan disiplin yang efektif, adil, dan sesuai regulasi.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami konsep employee misconduct dan disiplin kerja
Mengklasifikasikan jenis-jenis pelanggaran karyawan
Menyusun dan menerapkan sistem disiplin yang adil dan konsisten
Melakukan investigasi pelanggaran secara profesional
Menyusun dokumentasi disipliner yang kuat dan sah secara hukum
Menangani kasus pelanggaran berat dengan meminimalkan risiko hukum
Membangun budaya disiplin yang konstruktif dan preventif
Session 1: Konsep Disiplin Kerja & Employee Misconduct
Pengertian disiplin kerja dan employee misconduct
Tujuan sistem disiplin dalam organisasi
Prinsip keadilan, konsistensi, dan objektivitas
Peran HR dan atasan langsung dalam penegakan disiplin
Session 2: Jenis-Jenis Pelanggaran Karyawan
Pelanggaran ringan, sedang, dan berat
Pelanggaran perilaku (attitude & conduct)
Pelanggaran kinerja dan kepatuhan
Pelanggaran etika, fraud, dan konflik kepentingan
Contoh kasus pelanggaran di tempat kerja
Session 3: Landasan Hukum & Regulasi Ketenagakerjaan
UU Ketenagakerjaan & UU Cipta Kerja (Omnibus Law)
Peraturan Perusahaan (PP) dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB)
Hak dan kewajiban pengusaha & pekerja
Prinsip due process & asas kehati-hatian
Risiko hukum dalam penanganan pelanggaran
Session 4: Sistem & Tahapan Disciplinary Action
Progressive discipline system
Teguran lisan dan tertulis
Surat peringatan (SP1, SP2, SP3)
Skorsing dan sanksi administratif
Pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat pelanggaran
Studi kasus penerapan sanksi
Session 5: Teknik Investigasi Pelanggaran Karyawan
Prinsip investigasi yang objektif dan rahasia
Pengumpulan bukti dan fakta
Teknik wawancara saksi dan terlapor
Pembuatan berita acara pemeriksaan (BAP)
Kesalahan umum dalam proses investigasi
Session 6: Komunikasi Disipliner & Handling Difficult Conversations
Menyampaikan teguran dan sanksi secara profesional
Teknik komunikasi asertif dan empatik
Mengelola emosi dan resistensi karyawan
Role play: disciplinary meeting
Session 7: Dokumentasi & Administrasi Disipliner
Pentingnya dokumentasi dalam kasus pelanggaran
Format surat peringatan & sanksi disiplin
Catatan personal file karyawan
Dokumentasi untuk kepentingan hukum & audit
Best practice arsip disipliner
Session 8: Manajemen Risiko & Pencegahan Pelanggaran
Pencegahan pelanggaran melalui kebijakan & sosialisasi
Membangun budaya disiplin dan kepatuhan
Peran pimpinan sebagai role model
Penyusunan Disciplinary Action Framework & Action Plan
Peserta akan memperoleh:
Pemahaman komprehensif employee misconduct & disciplinary action
Panduan klasifikasi pelanggaran karyawan
Framework sistem disiplin & progressive discipline
Checklist investigasi pelanggaran karyawan
Template dokumentasi disipliner (SP, BAP, notulen)
Action Plan penerapan sistem disiplin di organisasi
Ceramah interaktif
Diskusi kelompok
Studi kasus nyata
Role play & simulasi disciplinary meeting
Workshop penyusunan action plan
HR Manager & HR Business Partner
HR Officer / Industrial Relations Officer
Legal & Compliance Officer
Line Manager & Supervisor
Pimpinan unit kerja
4. Designing Company Regulations & Employment Contracts
Menyusun dokumen ketenagakerjaan yang sah, lengkap, dan selaras UU.
Peraturan Perusahaan (PP) dan Perjanjian Kerja merupakan fondasi utama dalam pengelolaan hubungan kerja yang sehat, profesional, dan berkelanjutan. Dokumen ini tidak hanya berfungsi sebagai pedoman operasional dan disiplin kerja, tetapi juga sebagai alat perlindungan hukum bagi perusahaan dan karyawan.
Dalam praktiknya, banyak organisasi masih menghadapi tantangan seperti peraturan perusahaan yang tidak diperbarui sesuai regulasi ketenagakerjaan terkini, kontrak kerja yang tidak jelas, multitafsir, atau bahkan berpotensi menimbulkan sengketa hubungan industrial. Kesalahan dalam penyusunan PP dan perjanjian kerja dapat berakibat pada konflik, tuntutan hukum, hingga sanksi administratif.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali HR, Legal, dan pimpinan organisasi dengan pemahaman hukum ketenagakerjaan serta keterampilan praktis dalam menyusun Peraturan Perusahaan dan Perjanjian Kerja yang patuh regulasi, aplikatif, jelas, dan melindungi kepentingan kedua belah pihak.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami fungsi strategis Peraturan Perusahaan dan Perjanjian Kerja
Memahami dasar hukum ketenagakerjaan terkait PP & kontrak kerja
Menyusun Peraturan Perusahaan yang sesuai regulasi dan kebutuhan organisasi
Menyusun perjanjian kerja yang jelas, adil, dan mengikat secara hukum
Menghindari klausul bermasalah dan risiko hukum dalam kontrak kerja
Melakukan review dan pembaruan PP & perjanjian kerja secara berkala
Session 1: Konsep Hubungan Kerja & Dokumen Ketenagakerjaan
Pengertian hubungan kerja menurut UU
Jenis-jenis dokumen ketenagakerjaan
Fungsi Peraturan Perusahaan (PP) & PKB
Peran PP & kontrak kerja dalam mitigasi risiko hukum
Session 2: Dasar Hukum Peraturan Perusahaan
UU Ketenagakerjaan & UU Cipta Kerja (Omnibus Law)
PP, Permenaker, dan regulasi turunan terkait
Kewajiban perusahaan memiliki PP
Prosedur pembuatan, pengesahan, dan masa berlaku PP
Perbedaan PP dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB)
Session 3: Struktur & Konten Peraturan Perusahaan
Sistematika Peraturan Perusahaan
Hak dan kewajiban perusahaan & karyawan
Waktu kerja, upah, dan tunjangan
Disiplin kerja dan sanksi
Tata tertib, K3, dan etika kerja
Pemutusan hubungan kerja (PHK)
Session 4: Workshop Penyusunan Peraturan Perusahaan
Identifikasi kebutuhan & risiko organisasi
Penyusunan pasal-pasal PP
Penyelarasan PP dengan budaya & strategi perusahaan
Review contoh PP (best practice & common mistakes)
Diskusi kelompok & presentasi hasil
Session 5: Jenis & Prinsip Perjanjian Kerja
Pengertian perjanjian kerja menurut hukum
PKWT (Perjanjian Kerja Waktu Tertentu)
PKWTT (Perjanjian Kerja Waktu Tidak Tertentu)
Kontrak alih daya (outsourcing)
Prinsip sahnya perjanjian kerja
Session 6: Struktur & Klausul Penting Perjanjian Kerja
Identitas para pihak
Ruang lingkup pekerjaan & jabatan
Masa kerja & jam kerja
Upah, tunjangan, dan fasilitas
Hak, kewajiban, dan larangan
Klausul kerahasiaan & non-competen
Klausul pemutusan hubungan kerja
Session 7: Risiko Hukum & Klausul Bermasalah
Klausul yang dilarang oleh hukum
Risiko multitafsir & ketidakseimbangan kontrak
Konsekuensi hukum kontrak cacat
Studi kasus sengketa perjanjian kerja
Tips drafting kontrak yang aman
Session 8: Review, Sosialisasi & Implementasi
Review & audit dokumen ketenagakerjaan
Prosedur sosialisasi PP & kontrak kerja
Penyimpanan & administrasi kontrak
Update dokumen sesuai perubahan regulasi
Penyusunan Action Plan Implementasi PP & Kontrak Kerja
Peserta akan memperoleh:
Pemahaman komprehensif PP & perjanjian kerja
Framework penyusunan Peraturan Perusahaan
Checklist kepatuhan hukum ketenagakerjaan
Template struktur Peraturan Perusahaan
Template struktur Perjanjian Kerja (PKWT & PKWTT)
Action Plan review & implementasi dokumen ketenagakerjaan
Paparan interaktif
Diskusi kelompok
Studi kasus hukum ketenagakerjaan
Workshop drafting dokumen
HR Manager & HR Business Partner
HR Officer / Industrial Relations Officer
Legal & Compliance Officer
Pimpinan unit kerja
Owner & Manajemen perusahaan
5. HR Administration, SOP & Documentation
Standarisasi prosedur HR untuk efisiensi dan legalitas
Administrasi SDM merupakan fondasi operasional yang menentukan efektivitas pengelolaan sumber daya manusia di dalam organisasi. HR Administration yang tidak tertata dengan baik—mulai dari SOP yang tidak jelas, dokumentasi yang tidak lengkap, hingga arsip karyawan yang tidak terkelola—berpotensi menimbulkan masalah kepatuhan hukum, inefisiensi kerja, dan risiko konflik ketenagakerjaan.
Di era tuntutan tata kelola yang semakin ketat dan audit yang semakin sering, fungsi HR dituntut tidak hanya administratif, tetapi juga akurat, terdokumentasi, sistematis, dan patuh regulasi. SOP HR yang baik akan memastikan konsistensi proses, kejelasan peran, serta standar layanan yang profesional.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali praktisi HR dan administrator SDM dengan pengetahuan praktis dan keterampilan teknis dalam menyusun, mengelola, dan mengimplementasikan administrasi HR, SOP, dan dokumentasi SDM yang efektif dan siap audit.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami peran strategis HR Administration dalam organisasi
Menyusun dan memperbaiki SOP HR secara sistematis dan aplikatif
Mengelola dokumentasi dan arsip SDM secara rapi dan aman
Memastikan kepatuhan administrasi HR terhadap regulasi ketenagakerjaan
Meningkatkan akurasi, efisiensi, dan profesionalisme proses HR
Menyiapkan sistem dokumentasi HR yang siap audit dan mudah ditelusuri
Session 1: Peran & Ruang Lingkup HR Administration
Fungsi HR Administration dalam siklus SDM
HR Admin sebagai fondasi tata kelola HR
Hubungan HR Administration dengan IR, Payroll, dan Compliance
Tantangan umum administrasi HR di perusahaan
Session 2: Dokumen Wajib & Administrasi SDM
Dokumen wajib ketenagakerjaan
Data dan file personal karyawan
Administrasi rekrutmen & onboarding
Administrasi kontrak kerja & perubahan data
Administrasi absensi, cuti, dan izin
Session 3: Penyusunan SOP HR yang Efektif
Pengertian dan manfaat SOP
Prinsip SOP yang baik (jelas, konsisten, terukur)
Struktur SOP HR
Penentuan alur proses & tanggung jawab
Integrasi SOP dengan kebijakan perusahaan
Session 4: Workshop Penyusunan SOP HR
Identifikasi proses HR prioritas
Penyusunan flowchart SOP
Penulisan SOP berbasis proses kerja
Review SOP HR (best practice & kesalahan umum)
Presentasi hasil kelompok
Session 5: Sistem Dokumentasi & Arsip HR
Prinsip manajemen dokumen SDM
Klasifikasi dan penamaan dokumen
Sistem penyimpanan fisik & digital
Masa simpan dokumen HR
Keamanan dan kerahasiaan data karyawan
Session 6: Administrasi HR & Kepatuhan Regulasi
Administrasi sesuai UU Ketenagakerjaan & Omnibus Law
Administrasi BPJS Kesehatan & Ketenagakerjaan
Administrasi upah, lembur, dan tunjangan
Administrasi disiplin & sanksi kerja
Administrasi PHK dan exit management
Session 7: HR Documentation untuk Audit & Sengketa
Kebutuhan dokumentasi untuk audit internal & eksternal
Dokumentasi untuk kasus hubungan industrial
Kesalahan umum dalam dokumentasi HR
Studi kasus dokumentasi bermasalah
Checklist kesiapan audit HR
Session 8: Action Plan & Implementasi Sistem HR Admin
Evaluasi kondisi administrasi HR saat ini
Penyusunan roadmap perbaikan HR Administration
Penentuan prioritas SOP & dokumentasi
Penyusunan HR Admin Improvement Action Plan
Komitmen implementasi pasca-pelatihan
Peserta akan memperoleh:
Pemahaman menyeluruh HR Administration & SOP HR
Template SOP HR siap pakai
Checklist dokumen wajib HR
Framework sistem dokumentasi & arsip HR
Checklist kesiapan audit HR
Action Plan peningkatan HR Administration di perusahaan
Paparan interaktif
Diskusi dan sharing praktik terbaik
Studi kasus
Workshop penyusunan SOP & dokumentasi
HR Administrator & HR Officer
HR Supervisor & HR Manager
General Affair & Admin SDM
Industrial Relations Officer
Profesional HR pemula hingga menengah
6. Audit Internal HR & Kepatuhan Regulasi
Melakukan audit internal fungsi HR untuk memastikan ketaatan hukum dan efisiensi.
Dalam lingkungan bisnis yang semakin kompleks dan regulatif, fungsi SDM dituntut tidak hanya menjalankan operasional, tetapi juga memastikan seluruh kebijakan, proses, dan praktik ketenagakerjaan patuh terhadap peraturan perundang-undangan serta standar tata kelola yang baik.
Banyak organisasi menghadapi risiko hukum, sanksi administratif, hingga konflik hubungan industrial akibat lemahnya sistem audit internal HR dan kurangnya pengawasan terhadap kepatuhan regulasi. Audit Internal HR menjadi alat strategis untuk mengidentifikasi celah kepatuhan, mencegah risiko hukum, serta meningkatkan kualitas pengelolaan SDM secara berkelanjutan.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali praktisi HR, auditor internal, dan manajemen dengan pengetahuan, kerangka kerja, serta keterampilan praktis dalam melakukan audit internal HR yang sistematis dan memastikan kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan yang berlaku.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami konsep dan peran Audit Internal HR
Mengidentifikasi area risiko kepatuhan dalam fungsi SDM
Memahami regulasi ketenagakerjaan yang relevan dengan praktik HR
Menyusun dan melaksanakan audit internal HR secara sistematis
Mengevaluasi temuan audit dan menyusun rekomendasi perbaikan
Meningkatkan kesiapan organisasi menghadapi audit eksternal dan pemeriksaan regulator
Session 1: Pengantar Audit Internal HR
Pengertian dan tujuan Audit Internal HR
Peran audit HR dalam tata kelola perusahaan
Perbedaan audit HR, audit kepatuhan, dan audit kinerja
Tantangan audit HR di organisasi
Session 2: Kerangka Regulasi & Kepatuhan HR
UU Ketenagakerjaan & UU Cipta Kerja (Omnibus Law)
Peraturan turunan (PP, Permenaker)
Kepatuhan administrasi ketenagakerjaan
Risiko hukum akibat ketidakpatuhan HR
Session 3: Area Audit Utama dalam Fungsi HR
Rekrutmen & seleksi
Perjanjian kerja & peraturan perusahaan
Administrasi SDM & dokumentasi
Pengupahan, lembur, dan tunjangan
BPJS Kesehatan & Ketenagakerjaan
Disiplin, sanksi, dan PHK
Session 4: Perencanaan Audit Internal HR
Penentuan ruang lingkup audit
Identifikasi risiko & prioritas audit
Penyusunan audit plan HR
Penentuan kriteria dan standar audit
Penyusunan checklist audit HR
Session 5: Pelaksanaan Audit Internal HR
Teknik pengumpulan data audit
Wawancara, observasi, dan review dokumen
Pengujian kepatuhan proses HR
Dokumentasi bukti audit
Etika dan objektivitas auditor HR
Session 6: Analisis Temuan & Risiko HR
Klasifikasi temuan audit (minor–major–critical)
Analisis akar masalah (root cause analysis)
Penilaian risiko hukum & operasional
Studi kasus temuan audit HR
Session 7: Pelaporan Audit & Rekomendasi
Struktur laporan audit HR
Penyusunan rekomendasi perbaikan
Penyampaian hasil audit ke manajemen
Monitoring tindak lanjut audit
Audit follow-up & continuous improvement
Session 8: Workshop & Action Plan
Simulasi audit internal HR
Review dokumen HR peserta
Penyusunan HR Audit Action Plan
Strategi membangun budaya kepatuhan
Komitmen implementasi pasca-pelatihan
Peserta akan memperoleh:
Pemahaman komprehensif Audit Internal HR & kepatuhan regulasi
Framework dan metodologi Audit Internal HR
Checklist audit HR siap pakai
Template audit plan & laporan audit HR
Peta risiko kepatuhan HR
Action Plan peningkatan kepatuhan dan tata kelola HR
Paparan interaktif
Diskusi dan sharing best practice
Studi kasus audit HR
Workshop penyusunan audit HR
HR Manager & HR Business Partner
HR Supervisor & HR Officer
Internal Auditor
Legal & Compliance Officer
Manajemen unit kerja
7. Outsourcing & Third-Party Labor Management
Mengelola hubungan kerja dengan vendor tenaga kerja dan outsourcing secara profesional.
Penggunaan tenaga kerja outsourcing dan pihak ketiga (third-party labor) telah menjadi strategi organisasi untuk meningkatkan fleksibilitas, efisiensi biaya, dan fokus pada core business. Namun, praktik outsourcing yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan risiko hukum, konflik hubungan industrial, hingga kerugian reputasi perusahaan.
Perubahan regulasi ketenagakerjaan—termasuk UU Ketenagakerjaan dan UU Cipta Kerja (Omnibus Law)—menuntut perusahaan untuk memahami secara mendalam aspek legal, kontraktual, serta tata kelola tenaga alih daya. Kesalahan dalam pemilihan vendor, penyusunan kontrak, hingga pengawasan operasional dapat menyebabkan perusahaan pengguna ikut bertanggung jawab secara hukum.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali HR, Legal, Procurement, dan Manajemen dengan pemahaman regulasi, kerangka kerja, dan keterampilan praktis dalam mengelola outsourcing dan tenaga kerja pihak ketiga secara profesional, patuh hukum, dan berorientasi pada kinerja.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami konsep dan dasar hukum outsourcing & third-party labor
Mengidentifikasi jenis pekerjaan yang dapat dan tidak dapat di-outsourcing-kan
Menyusun kontrak kerja sama outsourcing yang aman dan jelas
Mengelola hubungan kerja dengan vendor secara efektif
Memastikan kepatuhan regulasi dan perlindungan hak tenaga kerja
Mengurangi risiko hukum dan konflik hubungan industrial
Session 1: Konsep Outsourcing & Third-Party Labor
Pengertian outsourcing & third-party labor
Perbedaan outsourcing, kontrak jasa, dan tenaga harian
Alasan strategis penggunaan outsourcing
Tantangan dan risiko outsourcing
Session 2: Dasar Hukum Outsourcing di Indonesia
UU Ketenagakerjaan & UU Cipta Kerja
Peraturan Pemerintah dan Permenaker terkait
Jenis pekerjaan yang dapat dialihdayakan
Hak dan kewajiban perusahaan pengguna & penyedia
Konsekuensi hukum pelanggaran outsourcing
Session 3: Strategi Perencanaan & Pemilihan Vendor
Analisis kebutuhan tenaga outsourcing
Kriteria pemilihan perusahaan outsourcing
Due diligence vendor (legal, finansial, operasional)
Peran HR, Legal, dan Procurement
Best practice pengelolaan vendor
Session 4: Kontrak Outsourcing & Perjanjian Kerja Sama
Struktur perjanjian kerja sama outsourcing
Klausul penting & klausul risiko tinggi
Tanggung jawab hukum para pihak
SLA (Service Level Agreement) & KPI vendor
Workshop review contoh kontrak outsourcing
Session 5: Pengelolaan Operasional Tenaga Outsourcing
Onboarding tenaga outsourcing
Pengaturan jam kerja & pengawasan kinerja
Koordinasi atasan langsung & vendor
Disiplin kerja & penanganan pelanggaran
Integrasi tenaga outsourcing dengan internal
Session 6: Kepatuhan & Perlindungan Tenaga Kerja
Pengupahan, lembur, dan tunjangan
BPJS Kesehatan & Ketenagakerjaan
K3 dan keselamatan kerja
Perlindungan hak normatif tenaga outsourcing
Audit kepatuhan vendor outsourcing
Session 7: Risiko Hukum & Konflik Hubungan Industrial
Potensi sengketa outsourcing
Tanggung jawab perusahaan pengguna
Studi kasus konflik outsourcing
Strategi pencegahan & penyelesaian konflik
Dokumentasi penting untuk perlindungan hukum
Session 8: Evaluasi Vendor & Action Plan
Penilaian kinerja vendor outsourcing
Review kontrak & perpanjangan kerja sama
Penyusunan Outsourcing Management Action Plan
Strategi perbaikan berkelanjutan
Komitmen implementasi pasca-pelatihan
Peserta akan memperoleh:
Pemahaman komprehensif outsourcing & third-party labor management
Checklist kepatuhan outsourcing
Template struktur kontrak outsourcing & SLA
Framework pengelolaan vendor outsourcing
Checklist audit kepatuhan vendor
Action Plan pengelolaan outsourcing yang patuh & efektif
Paparan interaktif
Diskusi kelompok
Studi kasus hukum outsourcing
Workshop review kontrak
Simulasi pengelolaan vendor
HR Manager & HR Business Partner
Industrial Relations Officer
Legal & Compliance Officer
Procurement & Vendor Management
Manajer operasional pengguna tenaga outsourcing
8. Termination Management & Exit Interview Process
Menangani proses pemutusan kerja dengan empati, tertib, dan berdampak minimal.
Pengelolaan pemutusan hubungan kerja (termination) merupakan salah satu aspek paling sensitif dalam manajemen SDM. Kesalahan dalam proses PHK, pengunduran diri, atau pemisahan kerja lainnya tidak hanya berpotensi menimbulkan konflik hubungan industrial dan risiko hukum, tetapi juga dapat merusak reputasi perusahaan serta menurunkan moral karyawan yang masih bertahan.
Selain aspek legal dan administratif, proses exit interview memiliki peran strategis sebagai sumber insight penting untuk perbaikan organisasi, budaya kerja, kepemimpinan, dan sistem SDM. Namun, banyak organisasi belum mengelola termination dan exit interview secara terstruktur, objektif, dan profesional.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali HR, pimpinan, dan pihak terkait dengan pemahaman hukum, keterampilan praktis, serta pendekatan manusiawi dalam mengelola termination management dan exit interview secara efektif, patuh regulasi, dan berorientasi pada pembelajaran organisasi.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami jenis-jenis termination dan dasar hukumnya
Mengelola proses PHK dan pemisahan kerja secara profesional dan patuh hukum
Mengurangi risiko konflik dan sengketa hubungan industrial
Menyusun dan menjalankan proses exit interview yang efektif
Mengolah data exit interview menjadi rekomendasi perbaikan organisasi
Menjaga hubungan baik dengan karyawan yang keluar (good leaver experience)
Session 1: Konsep & Jenis Termination
Pengertian termination & separation
Jenis pemutusan hubungan kerja:
Pengunduran diri (resign)
PHK karena kinerja
PHK karena pelanggaran disiplin
PHK karena efisiensi / restrukturisasi
Berakhirnya PKWT
Dampak termination terhadap organisasi
Session 2: Dasar Hukum Termination
UU Ketenagakerjaan & UU Cipta Kerja
Hak dan kewajiban perusahaan & karyawan
Prosedur PHK yang sah
Risiko hukum akibat termination yang tidak sesuai aturan
Peran HR dalam mitigasi risiko PHK
Session 3: Proses & Administrasi Termination
Tahapan termination management
Surat peringatan & dokumentasi pendukung
Perhitungan hak karyawan (pesangon, kompensasi, dll.)
Administrasi BPJS & pajak
Checklist dokumen termination
Session 4: Komunikasi & Manajemen Emosi
Teknik komunikasi termination yang bermartabat
Mengelola emosi dan resistensi karyawan
Role play penyampaian keputusan termination
Menjaga employer branding saat termination
Session 5: Konsep & Tujuan Exit Interview
Fungsi strategis exit interview
Jenis exit interview (formal, informal, survey)
Waktu & metode pelaksanaan exit interview
Peran HR & atasan langsung
Session 6: Teknik Exit Interview yang Efektif
Penyusunan pertanyaan exit interview
Teknik bertanya yang netral dan objektif
Menghindari bias & konflik
Simulasi pelaksanaan exit interview
Session 7: Pengolahan Data & Insight Exit Interview
Klasifikasi dan analisis data exit interview
Identifikasi pola & akar masalah
Menghubungkan data exit interview dengan engagement & turnover
Penyusunan rekomendasi perbaikan
Session 8: Exit Management & Action Plan
Proses handover & knowledge transfer
Offboarding & alumni relationship
Penyusunan Termination & Exit Management SOP
Penyusunan Action Plan perbaikan berbasis exit data
Komitmen implementasi pasca-pelatihan
Peserta akan memperoleh:
Pemahaman komprehensif termination management & exit interview
Checklist proses dan dokumen termination
Template pertanyaan exit interview
Framework analisis data exit interview
Template SOP Termination & Exit Process
Action Plan peningkatan manajemen pemisahan kerja
Paparan interaktif
Diskusi dan sharing pengalaman
Studi kasus hubungan industrial
Workshop penyusunan SOP & action plan
HR Manager & HR Business Partner
Industrial Relations Officer
HR Officer & HR Administrator
Legal & Compliance Officer
Pimpinan unit kerja
9. Dispute Handling & Bipartite Communication Strategy
Menangani konflik dan keluhan karyawan dengan dialog dua arah yang konstruktif.
Perselisihan hubungan industrial merupakan risiko yang tidak terpisahkan dari dinamika hubungan kerja antara perusahaan dan karyawan. Perbedaan kepentingan, miskomunikasi, kebijakan yang tidak dipahami dengan baik, hingga perubahan organisasi sering kali menjadi pemicu konflik yang berujung pada perselisihan formal.
Apabila tidak ditangani secara tepat, perselisihan dapat berkembang menjadi sengketa hukum, aksi industrial, penurunan produktivitas, hingga kerusakan reputasi perusahaan. Undang-undang ketenagakerjaan di Indonesia menempatkan perundingan bipartit sebagai tahapan wajib dan utama dalam penyelesaian perselisihan sebelum masuk ke jalur mediasi, konsiliasi, atau pengadilan hubungan industrial.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali HR, manajemen, dan praktisi hubungan industrial dengan pemahaman hukum, keterampilan komunikasi, serta teknik negosiasi dalam menangani perselisihan dan membangun komunikasi bipartit yang efektif, konstruktif, dan berorientasi pada solusi bersama.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami jenis dan sumber perselisihan hubungan industrial
Mengelola konflik dan perselisihan secara profesional dan patuh hukum
Menjalankan proses bipartit sesuai ketentuan perundang-undangan
Membangun strategi komunikasi bipartit yang efektif dan berkelanjutan
Mencegah eskalasi perselisihan ke jalur hukum
Menyusun dokumentasi penyelesaian perselisihan yang sah dan kuat
Session 1: Konsep Hubungan Industrial & Perselisihan
Hubungan industrial di Indonesia
Jenis-jenis perselisihan:
Perselisihan hak
Perselisihan kepentingan
Perselisihan PHK
Perselisihan antar serikat pekerja
Penyebab utama perselisihan di tempat kerja
Session 2: Dasar Hukum Penyelesaian Perselisihan
UU Ketenagakerjaan & UU Cipta Kerja
UU No. 2 Tahun 2004 tentang PPHI
Tahapan penyelesaian perselisihan:
Bipartit
Mediasi
Konsiliasi
Arbitrase
Pengadilan Hubungan Industrial
Konsekuensi hukum kegagalan bipartit
Session 3: Dispute Handling Strategy
Prinsip penanganan perselisihan yang efektif
Conflict management vs dispute resolution
Analisis kepentingan para pihak
Strategi pencegahan konflik
Peran HR & manajemen dalam dispute handling
Session 4: Workshop Analisis Kasus Perselisihan
Studi kasus perselisihan hubungan industrial
Identifikasi jenis dan akar masalah
Penentuan strategi penyelesaian
Diskusi kelompok & presentasi solusi
Session 5: Konsep & Mekanisme Bipartite Communication
Pengertian dan fungsi bipartit
Prinsip komunikasi bipartit yang efektif
Peran wakil perusahaan & pekerja
Tata cara perundingan bipartit
Session 6: Teknik Komunikasi & Negosiasi Bipartit
Teknik komunikasi asertif
Active listening & empati
Teknik negosiasi win–win
Mengelola emosi dan tekanan dalam perundingan
Role play perundingan bipartit
Session 7: Dokumentasi & Kesepakatan Bipartit
Notulen dan berita acara perundingan
Penyusunan perjanjian bersama
Kekuatan hukum perjanjian bipartit
Kesalahan umum dalam dokumentasi bipartit
Checklist dokumen bipartit
Session 8: Strategi Keberlanjutan & Action Plan
Membangun forum komunikasi bipartit
Early warning system konflik
Evaluasi efektivitas komunikasi bipartit
Penyusunan Dispute Handling & Bipartite Communication Action Plan
Komitmen implementasi pasca-pelatihan
Peserta akan memperoleh:
Pemahaman komprehensif penanganan perselisihan & komunikasi bipartit
Framework dispute handling strategy
Checklist proses bipartit sesuai regulasi
Template notulen & perjanjian bipartit
Teknik komunikasi & negosiasi bipartit yang aplikatif
Action Plan pencegahan & penyelesaian perselisihan
Paparan interaktif
Diskusi kelompok
Studi kasus hubungan industrial
Role play perundingan bipartit
Workshop penyusunan dokumen & action plan
HR Manager & HR Business Partner
Industrial Relations Officer
Legal & Compliance Officer
Pimpinan unit kerja
Perwakilan manajemen dalam forum bipartit
10. HC Risk Management & Compliance Monitoring
Mengelola risiko hukum dan non-hukum dalam aktivitas HR.
Human Capital (HC) merupakan aset strategis organisasi, namun juga menyimpan berbagai risiko—mulai dari risiko hukum ketenagakerjaan, risiko operasional, risiko reputasi, hingga risiko strategis akibat ketidaksiapan talenta. Tanpa sistem risk management dan compliance monitoring yang baik, organisasi rentan terhadap sanksi hukum, konflik hubungan industrial, inefisiensi operasional, serta kegagalan pencapaian tujuan bisnis.
Perubahan regulasi ketenagakerjaan, tuntutan tata kelola perusahaan (GCG), serta meningkatnya ekspektasi pemangku kepentingan menuntut fungsi HR untuk bertransformasi dari sekadar administratif menjadi risk-aware dan compliance-driven function.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali praktisi HR, manajemen, dan fungsi terkait dengan kerangka kerja, alat, dan keterampilan praktis dalam mengidentifikasi, mengelola, dan memonitor risiko Human Capital secara sistematis dan berkelanjutan.
Setelah mengikuti pelatihan ini, peserta diharapkan mampu:
Memahami konsep HC Risk Management & Compliance
Mengidentifikasi dan memetakan risiko SDM di organisasi
Menilai dampak dan probabilitas risiko HC
Menyusun strategi mitigasi risiko SDM
Membangun sistem monitoring kepatuhan HR
Mengintegrasikan HC risk dengan tata kelola dan strategi organisasi
Session 1: Konsep HC Risk Management
Pengertian HC Risk & Compliance
Peran HR dalam enterprise risk management (ERM)
Hubungan HC risk dengan GCG & sustainability
Tantangan pengelolaan risiko SDM
Session 2: Kerangka Regulasi & Kepatuhan HR
UU Ketenagakerjaan & UU Cipta Kerja
Regulasi BPJS, K3, dan ketentuan ketenagakerjaan lain
Risiko hukum akibat ketidakpatuhan HR
Peran HR dalam compliance assurance
Session 3: Identifikasi & Klasifikasi Risiko HC
Jenis risiko Human Capital:
Risiko hukum & kepatuhan
Risiko operasional HR
Risiko strategis talenta
Risiko budaya & etika
Risiko reputasi & hubungan industrial
Teknik identifikasi risiko (risk workshop, checklist, audit)
Session 4: Workshop Pemetaan Risiko HC
Penyusunan HC Risk Register
Identifikasi risiko utama organisasi
Diskusi kelompok & presentasi peta risiko
Session 5: Analisis & Penilaian Risiko HC
Penilaian probabilitas & dampak risiko
Risk matrix & risk prioritization
Penentuan risk appetite & risk tolerance
Studi kasus penilaian risiko SDM
Session 6: Strategi Mitigasi Risiko Human Capital
Preventive, detective, dan corrective control
Peran kebijakan, SOP, dan kontrol internal
Integrasi mitigasi risiko dalam proses HR
Best practice mitigasi risiko HC
Session 7: Compliance Monitoring & HR Control System
Konsep compliance monitoring
Indikator kepatuhan HR (KPI & KRI)
Audit internal HR & self-assessment
Pelaporan dan eskalasi risiko
Teknologi & HRIS untuk compliance monitoring
Session 8: Action Plan & Sustainability
Penyusunan HC Risk Management & Compliance Action Plan
Integrasi dengan ERM perusahaan
Monitoring berkelanjutan & continuous improvement
Komitmen implementasi pasca-pelatihan
Peserta akan memperoleh:
Pemahaman komprehensif HC Risk Management & Compliance Monitoring
Framework HC Risk Management terintegrasi
Template HC Risk Register & Risk Matrix
Checklist kepatuhan HR
Framework compliance monitoring & reporting
Action Plan pengelolaan risiko HC di organisasi
Paparan interaktif
Diskusi kelompok
Studi kasus risiko SDM
Workshop pemetaan risiko & mitigasi
Simulasi monitoring kepatuhan
HR Manager & HR Business Partner
Internal Auditor & Risk Management
Legal & Compliance Officer
Manajemen unit kerja
Profesional HR senior